Minggu, 26 Juni 2016

Can I have Everyone's Attention, Please!

Okay guys, here's the thing...

I'm in LOVE. I'm soooo in love right now...
I'm in LOVE with IL VOLO.
Yes, IL VOLO. An Italian operatic pop grup consisting of three gifted, talented, beautiful Italian men aged 23, soon to be 22, and 21 years old.

If you know me, I tend to talk A LOT about things I like and some people might be annoyed with it. Now since I figured how much I love IL VOLO music and their cute face, of course, I know I won't ever be shut up about them. So, instead of filling my personal accounts (facebook, twitter, instagram, you name it!) with me talking and posting about IL VOLO, which I already did whether you like it or notI decided to set up a special tumblr account for my Il Volo stuff. 

If you like Il Volo, or just curious because I talk too much about them, just go check my tumblr account, ignaziobosco.tumblr.com. Or simply go to YouTube, google or anything, and type Il Volo (I think these are better anyway hahaha). I suggest you to also check out some tumblr accounts I follow, they have some good Il Volo stuff there.

And for my fellow Indonesian, I know this music genre is not so popular here in our country, some of you might never heard about it at all, but it won't stop me from sharing it. So here's some brief introduction to Il Volo from my other blog (written in Indonesian): https://myitaliancorner.wordpress.com/2016/06/24/il-volo/

I found their music by accident and I ended up falling in love with it. This is the kind of music that can get me out of a bad mood and brighten my day. I hope it works the same for you. And if it's not, I hope you find the right music that can do that. Because honestly, I think that music is what keeps our world rounds

And Finally, feel free to ask me anything on tumblr.

Rabu, 04 Mei 2016

Almost is NEVER Enough

Rasanya benar ungkapan yang tertulis diatas,

Bahwa jadi nomor-2 itu tidak akan pernah diingat, lebih lagi diapresiasi. Tidak. Karena sampai kapan pun nomor 2 bukanlah nomor 1.

Penilaian sebatas dari hasil ini seringkali membuat geram. Seolah menghakimi bahwa si nomor 2 tidak lebih berusaha dari si nomor 1. Padahal kenyataannya tidak melulu seperti itu.

Sepintas hati berbisik,
"Tunjukkan saja hasil akhir yang baik, tak peduli itu hasil usahamu atau 'bantuan' orang lain. Sama saja. Yang dilihat hanya hasil, bukan proses."

Seseorang bisa saja mengaku melakukan penilaian berdasarkan proses yang telah dijalani, lau membandingkan si 'nomor 1' dengan si 'nomor 2, 3, 4, dst". Tapi, Hei! Kalian tahu apa tentang usaha yang sudah dilakukan orang lain? Tahu apa tentang pengorbanannya?

Memberi motivasi? Rasanya pernah saya menyaksikan pemberian motivasi yang lebih elegan dari sekedar membandingkan seseorang dengan orang lain.
Haruskah ada unsur penghakiman dalam setiap pemberian motivasi? Jika begitu saya lebih baik tidak mendengar motivasi dari orang lain.

Senin, 02 Mei 2016

Criminal Minds Beyond Borders: What's the difference?


For anyone familiar with police procedural drama, Criminal Minds is not a new thing. The long running series about FBI’s BAU team reached its 11the season this year and for me, personally, making someone to keep watching your series for 11 years is a huge thing. Well done team!!

This past 11 years, other than the original series, the team also produced not only one but two spin-offs. The first one, titled Criminal Minds Suspect Behavior debuted on 2011 and cancelled after 13 episodes because of its low ratings.  After 5 years, they finally release the second spin-off titled Criminal Minds Beyond Borders. Beyond Borders was debuted March 16, 2016 and successfully caught my attention since then.

The new spin-off, starring familiar face Garry Sinise, as Jack Garrett, the head of FBI’s International Response Team unit.  The team travels a lot to help solves cases involving American citizens in foreign country. Other than Garry Sinise, the team also consist of a tech analyst, Russ Montgomery (Tyler James Williams), a former army and special ops agent, Matthew Simmons (Daniel Henney), a linguistic specialist, Clara Seger (Anna de la Garza), and last but not least a medical examiner, Mae Jarvis (Annie Funke).

Beyond Borders brings the different sides of the original series but at the same time keeping the same spirit, the same professionalism. It brings us to different country every week, so we’ll meet different unsub (unknown subject) with different cultural background, making it even more interesting. As they travel a lot of different country, they have a bigger, way bigger jet than the BAU team they could bring two cars and a motorcycle in it. My mouth wide open the first time I saw it. They also collect money from the country they travel and put it on the board inside their jet, cool!!

After several episodes I noticed another thing that makes Beyond Borders different from another procedural drama, even from its original series. While another police procedural series capture the dark side of the character’s personal life, the characters in this series seem to have a better one. Jack Garrett has a wonderful marriage with 6 kids, while Simmons has a beautiful wife and 4 cute little kids. The other, Mae and Monty were still single. The one with a bit darker personal life is Clara. She married once but lost his husband, I don’t know the story yet, but I guess it was because of her job. It traumatized her. Clara left the job once to travel the world before re-unite with the IRT unit in episode 1.

The show is now reaching its 8th episode and on their way to the 9th. And then there’s a question, will it end up like Suspect Behavior? It was started with a solid rating. The acting itself was a bit average for me, to be honest, and they obviously can do more with the storyline. But I’m curious about the character development  because we haven’t seen much of it in the previous 8 episodes. So yeah, I think the show deserve more chance.

Minggu, 24 April 2016

20 Facts about Me

I got this challenge months ago from a friend. Took me a long time to come up with the list because I actually have much more than these 20. But they just asked for 20, so here they are:
1. Second child of three.
2. Was born in Bogor, and lived there until I graduated from High School.
3. Not brave enough to sleep in my own room until high school.
4. Afraid of ghosts.
5. A morning person
6. A sport fan. I watch soccer, tennis, badminton, boxing, baseball, racing, anything! You name it.
7. I’m always honest to others, but most of the times not to myself.
8. Often get emotionally attached to fictional characters. I found it hard to move on when my favorite characters got killed.
9. I have a thing for neurology and biochemistry.
10. Not a big fan of reptiles. They’re just weird and yiekss. I got goosebumps trying to write about it.
11. On a scale of 1 to dead, my lazyness is on the dead level.
12. Can’t tolerate a large amounts of sugar. It gives me headache.
13. I’m specific about what I want, what I like, and what I don’t.
14. Native Indonesian, currently trying to improve my English grammar, still working to enrich my Italian vocabularies.
15. A reader. Sometimes I write, but I keep my writing for myself.
16. I like action, thriller, mystery (the one that doesn’t involve ghosts or mystical creatures of any kind), adventure, and a bit of drama.
17. I can be very very annoying, depends on my mood and the situation.
18. A person with not much of words. But in fact, I talk much when it comes to something I like.
19. I consider myself as a good listener.
20. I’m good at keeping secrets. So good I want to put it in my resume.

Minggu, 10 April 2016

Terlahir Kidal, Salahkah?

“Kok nulisnya pake tangan kiri?”
“Kok bisa sih nulis pake tangan kiri?
“Kidal ya?”
“Nggak sopan tau nulis pake tangan kiri.”

Pernah mendengar ini semua? Pernah mengeluarkan pertanyaan/pernyataan sejenis ke teman kamu? Atau bahkan pertanyaan/pernyataan tersebut ditujukan kepada kamu? Pernah terpikir apa yang dipikirkan orang kidal terhadap statement seperti itu?

Sebagian mungkin menganggap kidal sebagai sebuah anomali, didasarkan atas fakta bahwa hanya ada sekitar 10% orang kidal dari seluruh populasi dunia. Kalau saya pribadi lebih memandangnya sebagai ekspresi keragaman gen yang diperkuat oleh faktor lingkungan. Satu yang saya tidak setuju yaitu, anggapan bahwa kidal adalah sebuah kelainan dalam arti negatif.

Bicara tentang handedness, tak akan lepas dari hubungannya dengan otak. Otak terbagi menjadi dua bagian (hemisfer), yaitu hemisfer kanan dan kiri yang keduanya dihubungkan oleh corpus calosum. Seperti yang kita tahu, otak kanan mengendalikan bagian tubuh sebelah kiri dan sebaliknya. Tentang bagaimana handedness atau hand preference bisa terjadi, para ilmuwan punya pendapat yang beragam, diantaranya; gen, gender, perkembangan janin, faktor lingkungan (mencontoh), kerusakan otak, dan penyesuaian karena terjadi cedera (dikutip dari BetterHealth Channel, Victoria State Government).

Left-handedness, tidak hanya di Indonesia, memang sering dikaitkan dengan hal-hal yang kurang baik; ketidaksopanan, kasar, tabu, kejahatan, dan lain sebagainya. Pernah dengar istilah ‘tangan setan’? yap, itu juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kidal. Tapi salahkah jika kita terlahir sebagai seorang kidal? atau dalam kasus saya cross-dominance?

Sesungguhnya manusia tidak dapat memilih ia akan terlahir seperti apa. Jadi rasanya kurang bijak untuk menyalahkan seseorang atas ke-kidal-annya. Untuk beberapa urusan dengan orang lain memang sebaiknya mengikuti budaya orang kebanyakan agar tidak terjadi salah paham. Kebanyakan orang kidal yang saya temui pun begitu, tetap bersalaman dengan tangan kanan, transaksi dengan tangan kanan. Mungkin mereka menyadari posisinya sebagai minoritas di negara dengan budaya timur yang kental.

Beberapa pendapat negatif justru datang dari sebagian kecil orang ‘normal’ yang  mengatakan kidal adalah sesuatu yang buruk. Pernah saya iseng mencari pendapat orang tentang kidal dan menemukan sesuatu yang menurut saya mengejutkan. Pendapat ini saya temukan di sebuah forum tanya jawab, disitu dikatakan bahwa “Kidal adalah suatu kelainan karena tidak sesuai dengan keadaan normal manusia. Untuk itu harus berlatih dibiasakan menggunakan tangan kanan.”. Saya lupa kata-kata persisnya bagaimana, tapi kurang lebih seperti itu. Untuk istilah kelainan saya tidak begitu keberatan, karena kenyataannya kidal memang bukanlah suatu yang umum terjadi pada manusia (hanya 10% populasi dunia). Nah untuk kalimat kedua, agaknya saya kurang sependapat. Beberapa jurnal yang pernah saya baca menemukan beberapa kelainan belajar dan stuttering (saya tidak tahu bahasa Indonesia yang tepat) terjadi pada anak-anak karena ‘dipaksa’ untuk jadi normal dengan menggunakan tangan kanannya. Pernah menonton film The King’s Speech? Mungkin itu bisa jadi gambaran.

Saya sendiri bukanlah seorang kidal, tapi bukan pula seorang ‘normal’ menurut pandangan kebanyakan orang. Saya menggunakan tangan kanan untuk makan, berjabat tangan, dan dalam proses transaksi (menerima/memberi), selebih itu saya menggunakan tangan kiri, dengan alasan lebih kuat dan lebih nyaman. Istilahnya saya seorang cross-dominance. Tapi istilah moderately left-handed sepertinya lebih keren, jadi saya prefer ke istilah ini. Kegiatan yang saya lakukan dengan tangan kanan bukannya tidak bisa saya lakukan dengan tangan kiri, bisa saja jika saya mau, namun di tengah masyarakat kita yang menganut budaya timur, rasanya hal tersebut tidaklah tepat untuk dilakukan. Bahkan untuk makan, agama yang saya anut menganjurkan saya untuk melakukannya dengan tangan kanan. Tidak masalah bagi saya, karena memang sudah dibiasakan. Berbagai pertanyaan bahkan pernyataan sinis dari orang lain pernah saya rasakan ketika saya ‘lupa’ untuk menggunakan tangan kiri di tempat yang seharusnya. Bahkan untuk hal sepele seperti menulis saja masih banyak pertanyaan yang cukup membuat panas telinga.

Menurut pendapat saya, tidak ada yang salah dengan terlahir sebagai orang kidal. Dari segi ilmu pengetahuan, tidak ada yang mempermasalahkan fenomena kidal. Yang ada hanya rasa ingin tahu mengapa ke-kidal-an bisa terjadi. Dan dari pengetahuan agama yang saya miliki, tidak ada larangan untuk seseorang menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas, kecuali untuk makan dan minum. Pertimbangan budaya juga menjadi pertimbangan dalam menggunakan tangan kiri. Tidak mungkin kan berjabat tangan jika satu orang menggunakan tangan kanan sedang yang lain menggunakan tangan kiri? Nggak akan ketemu dong?

Referensi:
Bryngelson, Bryng; Clark, Thomas B. (1933). “Left Handedness and Stuttering. The Journal of Heredity (American Genetic Association) 24 (10): 387–390.

Coming Back!

Tak terasa telah lebih dari satu tahun blog ini dibiarkan begitu saja. Tak terurus. Selain karena faktor sibuk mengurus kehidupan kampus (akademis dan non akademis), juga karena saya sudah punya blog baru. Sayangnya, blog yang dibuat tahun 2015 dengan platform yang berbeda itu passwordnya hilang. Alhasil kembalilah saya ke sini, blog lawas dengan konten random.

Setelah dibaca ulang postingannya, blog ini sepertinya masih layak untuk dilanjutkan. Konten akan tetap random, karena jika dibatasi saya yang akan bingung sendiri. Tapi sepertinya tulisan-tulisan baru akan berisi pandangan saya terhadap berbagai hal yang ada di kehidupan sehari-hari. Belakangan ini banyak sekali yang terpikirkan di kepala dan ingin disampaikan. Hanya menunggu waktu yang tepat.

Senin, 23 Maret 2015

Tentangku dan Kalian

Inilah diriku, dengan berbagai kekurangan dan sedikit kelebihan yang kupunya.
Orang tuaku mungkin berpikir bahwa aku anak yang luar biasa.
Teman-temanku mungkin punya pendapat yang lain
Tapi aku? Pendapatku tentang diriku?

Aku mungkin senang bercanda.
Candaanku mungkin juga kadang menyakiti hati kalian
Tapi tahukah teman? tak ada sedikitpun niat untuk itu. Tak ada.

Aku mungkin terkadang menjadi bahan olokan.
Biasa bagiku. Akupun tak keberatan.
Tidak sedikitpun.
Tapi tahukah saat ada kata-kata yang menyakitkan kalian tujukan kepadaku?
Mungkin kalian tak sadar, karena aku hanya tersenyum.
Pikirku, kalian tak ada niat untuk menyakiti, melainkan hanya ingin mencairkan suasana.
Namun saat aku sudah terdiam atas semua lelucon tentangku yang kalian lontarkan,
Saat itulah aku rasa semua telah cukup. Dan aku ingin kalian juga mengerti.

Kalian mungkin kadang melihatku lebih senang duduk sendiri.
Tahukah kalian mengapa?
Itulah saat suasana hatiku sedang tidak baik.
Tak ingin rasanya menyakiti kalian dengan kata-kata yang mungkin keluar dari lisan ini saat aku sedang merasa marah.
Aku sulit memilirkan akibat buruk apa yang akan ditimbulkan lisanku.
Karenanya aku diam, menjauh.

Saat kita sedang berkumpul bersama, aku sadar terkadang aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan.
Namun kuusahakan untuk tetap berada disana. Mendengarkan, menanggapi sebisaku.
Kalian tahu mengapa?
Aku ingin kalian merasa didengarkan, merasa ada, dan dihormati saat sedang bicara.
Karena aku tahu betapa sakitnya diabaikan, aku tahu rasanya saat tidak ada orang yang mau mendengarkan ceritamu.
Tak ingin rasanya kalian mengalami rasa sakit yang sama.

Saat aku tertawa, mungkin saat itu aku sedang merasakan kebahagiaan,
dan ingin rasanya membagi kebahagiaan itu pada kalian.
Tapi mungkin juga saat itu aku sedang merasakan kesedihan,
namun tetap tertawa karena tak ingin kalian ikut merasakan kesedihan yang sedang kualami.

Ketahuilah kawan, bahwa diri ini masih banyak kekurangan.
Bahwa diri ini masih membutuhkan kalian dalam upaya memperbaiki diri.
Dan ketahuilah bahwa rasa sayang ini tak akah berhenti walau kita telah berpisah.

Rasa syukurku tak pernah henti kepadaNya yang telah mempertemukan kita.
Yang telah menebarkan rasa sayang dan cinta dalam persahabatan yang telah kita lalui bersama.
Suka, duka, telah kita alami.
Berbagai konflik telah kita lalui.
Namun ketahuilah, itu hanya cerita yang membuat persahabatan kita makin berwarna.
Dan cerita itulah, yang akan kita kenang sampai akhir masa.

Saat ini kita mungkin terpisah, mengejar impian kita masing-masing.
Namun percayalah sahabat, bahwa kita berpisah untuk bertemu kembali.
Bertemu kembali sebagai diri kita yang lebih baik, dibandingkan dengan kita saat bertemu pertama kali.



Sabtu, 21 Maret 2015

Syukur

"Let us be grateful to people who make us happy, they are charming gardeners who make our souls blossom." - Marcel Proust

Tuhan memang punya caranya sendiri dalam memberimu kebahagiaan.
Tuhan tak memberi apa yang kau inginkan, namun Ia pasti memberi apa yang kau butuhkan.
Seringkali mungkin kau merasa bahwa Tuhan tak mendengar do'a mu, mengabaikanmu, acuh padamu.

Namun, hei! lihat sekitarmu!
Tuhan menghadiahkanmu kedua orang tua yang menyayangi dan mengasihimu, rela berkorban, bahkan rela mati untukmu.
Tuhan menganugerahkan kepadamu guru-guru yang tekun membimbingmu hingga kau sampai pada kehidupanmu saat ini.
Tuhan pula yang mengirimkan padamu teman-teman yang membawamu pada kebaikan, membawamu lebih dekat kepada-Nya.

"Then which of the Blessings of your Lord will you deny?"

Sesungguhnya diri ini masih belum pandai bersyukur.
Lisan ini masih sering mengeluarkan keluhan.
Hati ini terkadang masih mudah dibalikan.
Dan pikiran ini sesekali masih juga terbelokkan.

Tuhan, hamba percaya ada rahasia indah dibalik segala cobaan yang kau berikan. Hamba percaya akan Qadha dan Qadar-Mu. Maka bimbinglah hamba untuk tetap berada di jalanmu, dan untuk senantiasa bersukur atas segala nikmat yang Engkau berikan. Aamiin

Rabu, 25 Februari 2015

Untitled

Sunyi....
Sepi....
Sendiri....

Yang bisa ia lakukan hanya memandangi gelapnya malam lewat kaca jendelanya.
Raga terdiam, membisu. Pikiran melayang jauh, menerka. Apa yang ia lakukan disana?
Bahagiakah?
Sedihkah?
atau sama seperti dirinya disini, penuh ketidakpastian?

Mulutnya memang tak punya keberanian untuk sekedar menyapa, menanyakan kabar, atau bahkan tersenyum.
Namun tahukah dia bahwa saat ini dihatinya hanya ia, ia, dan ia?
Salahkah?
Entahlah

Dilema...
Terlalu banyak dilema...
Hingga harus bohong pada diri sendiri

Terlalu lama memandang langit gelap penuh bintang itu, tak sadar ia meneteskan air mata seraya berdoa;
Tuhan, jagalah dirinya
Tenangkanlah hatinya
Kirimkanlah orang-orang yang dapat membuatnya bahagia...

Selasa, 07 Oktober 2014

CHEMISTRY FAIR UI 2014



HMD Kimia UI mempersembahkan
"CHEMISTRY FAIR 2014"
Integrating Green Chemistry for More Sustainable Life

Event ilmiah kimia tingkat nasional departemen kimia UI kembali hadir! Event yang diadakan

TK/SD/Keluarga
Chemistry Fair Kids

SMA/SMK/sederajat 
Chemistry Competition

SMA/SMK/Sederajat dan S1/D3 
Chemistry Innovation Project 
Chemistry Show

Umum
Chemistry Photograph
Seminar Nasional Kimia

Seluruh rangkaian acara akan berlangsung dari tanggal 1 hingga 29 November 2014

Daftarkan dirimu dan dapatkan pengalaman tak terlupakan di Chemistry Fair 2014!

REGISTRASI DIBUKA SAMPAI 24 Oktober !


More Information:
CP : 08561560157 (Satriyo)
Web: chemistryfair.ui.ac.id
Twitter: @chemfair2014
Ask.fm: ask.fm/chemfair2014

Senin, 08 September 2014

Desa Binaan FMIPA UI 2014 Day 2


“We all die. The goal isn't to live forever, the goal is to create something that will.” Chuck Palahniuk

Hari kedua di Kp. Cibuyutan dimulai dengan aktivitas pagi hari seperti biasa. Kamp terbangun dalam suasana gelap. Nampaknya jatah listrik 450 watt per malam telah kami habiskan untuk mengisi daya batrerai handphone kami. Setelah bangun, kami bersiap untuk melaksanakan shalat Subuh. Dinginnya udara pagi sempat membuat kami gentar untuk keluar rumah, terlebih lagi untuk membasahi anggota-anggota tubuh kami dengan air wudhu. Tetapi kewajiban adalah kewajiban dan kamipun memberanikan diri keluar rumah. Suasana di luar masih gelap, lampu jalan disini memang tidak menyala dan nampaknya beberapa rumah pun sudah kehabisan daya listrik seperti rumah yang kami tempati. Sumber cahaya yang ada hanyalah tiga buah senter yang kami bawa masing-masing dan bantuan dari cahaya bulan yang masih lumayan terang pada saat itu. Kami berjalan pelan-pelan menuruni tangga menuju sumber air terdekat. Ya, sebagian besar rumah disini memang tidak dilengkapi dengan kamar mandi dan hanya mengandalkan MCK terdekat. Setelah tiba, kami bergantian membasahi satu per satu anggota tubuh kami dengan air wudhu, dingin pun semakin terasa ketika tubuh kami yang basah terkena terpaan angin pagi hari yang berhembus saat itu. Dingin. Karenanya kami segera ke rumah dan melaksanakan shalat subuh.

Hari ini adalah hari yang spesial, 17 Agustus 2014. Ya, peringatan hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Teman-teman tentu ingat apa yang kita lakukan setiap tanggal 17 Agustus. Upacara bendera. Disini pun kami mencoba untuk melakukan hal yang sama. Usut punya usut, ternyata warga disini tidak pernah melaksanakan upacara 17 Agustus. Sedih, itu mungkin yang terasa dalam hati kami semua. Teman-teman panitia Desa Binaan FMIPA UI 2014 pun menyiapkan peralatan sederhana untuk pelaksanaan upacara bendera. Sebagian dari kami membangun tiang bendera dari sebatang bambu, sebagian lain bersiap untuk menjadi petugas upacara bendera, dan yang lainnya sibuk mengajarkan anak-anak Kp. Cibuyutan menyanyikan beberapa lagu nasional. Antusiasme anak-anak membuat kami semakin bersemangat. Sebelumnya kami juga telah memberitahu warga sekitar untuk ikut pelaksanaan upacara bendera ini, berharap mereka juga bisa merasakan semangat kemerdekaan yang biasanya ada dalam setiap upacara.

Sekitar pukul 09.00 WIB, kami melaksanakan gladiresik singkat, memastikan semua berjalan selancar mungkin. Anak-anak telah berkumpul, panitia pun telah siap dan beberapa warga telah juga datang. Kami membentuk sebuah barisan berbentuk L pada saat itu. Beberapa menit kemudian terlihat dari kejauhan warga berdatangan untuk ikut serta melaksanakan upacara bendera. Terharu, itu yang saya rasakan pada saat itu. Upacara pun dilaksanakan dengan hikmat. Tiba saatnya untuk penaikan sang saka Merah Putih. Seluruh warga dan anak-anak dengan sigap mengangkat tangan untuk hormat pada bendera dan bersama-sama kami menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan hikmat. Rangkaian upacara yang lain pun berjalan dengan lancar.




“One of the most deadly causes of destruction of divine destinies is when a leader is failing, but he or she does not know it. Ignorance about your role is a death plot against people's successes.” 
― Israelmore Ayivor

Ada perasaan bangga sekaligus malu dalam diri saya. Bagaimana tidak, dari setiap upacara 17 Agustus yang pernah saya ikuti, upacara nilah yang saya rasakan paling hikmat, paling bermakna, dan paling terasa nasionalismenya. Seringkali kita merasa malas untuk sekedar berdiri dalam barisan upacara. Banyak alasan, mulai dari panas, pegal, tidak ada waktu, dan lainnya. Sedangkan disini, walaupun matahari sangat terik, walaupun para warga punya kegiatan lain, mereka menyempatkan diri untuk mengikuti upacara perayaan Kemerdekaan, upacara yang belum pernah mereka ikuti sebelum hari ini. Ini membuktikan betapa warga Kp. Cibuyutan ini mencintai NKRI, terlepas dari bagaimana keadaan disana yang seolah-olah Indonesia tidak menyadari keberadan mereka. Rasanya benar ungkapan yang ditulis salah satu teman panitia yang saya kutip dari media sosial: "Mereka kenal Indonesia, tapi Indonesia belum tentu kenal mereka."


"One of the deep secrets of life is that all that is really worth the doing is what we do for others." Lewis Carroll


Selepas upacara bendera, kami bersama anak-anak sekolah mengadakan pawai 17 Agustus keliling desa. Dengan mengibarkan bendera Merah Putih kecil yang disediakan panitia, kami dan sahabat-sahabat kecil kami berjalan keliling desa sambil menyanyikan beberapa lagu nasional. Sungguh pengalaman yang menggugah hati dan tak akan terlupakan. Selepas pawai keliling desa, kami berkumpul untuk beristirahat sejenak kemudian pulang untuk makan siang di rumah. Hari itu saya baru sempat makan siang pukul 15.00 WIB karena hari itu ada teman yang jatuh sakit, jadi kami bergantian menjaganya. 

Setelah acara upacara dan pawai keliling kampung, sorenya dilaksanakan acara minat dan bakat yang terdiri dari kelas menggambar dan mewarnai, kelas origami, kelas drama, dan kelas menyanyi. Dibantu kakak-kakak panitia, adik-adik dari Cibuyutan bisa bersenang-senang sekaligus mengembangkan potensi mereka. 

“Love is our true destiny. We do not find the meaning of life by ourselves alone; we find it with another.” - Thomes Merton












Malam itu di rumah hanya ada 5 orang, karena Anis memutuskan untuk tinggal di rumah pak Idris, ikut menjaga salah satu teman kami yang sakit. Sangat sulit rasanya untuk tidur dengan nyenyak malam itu, bahkan untuk mulai tidur saja sulit. Saya berusaha untuk memejamkan mata, membuat diri saya tertidur karena saat itu sudah dinihari, sekitar pukul 1 pagi, tapi pikiran saya tetap pada teman kami yang sakit, kondisinya saat itu sulit ditebak. Saya lihat sekeliling, teman serumah saya semua sudah memejamkan mata. Melawan udara dingin, akhirnya saya pun tertidur karena kelelahan. 

To be continue.....

Desa Binaan FMIPA UI 2014 Day 1


“All life is an experiment. The more experiments you make the better.” - Ralph Waldo Emerson

Semakin banyak hal baru yang kita lakukan, maka semakin banyak pula yang kita pelajari dari pengalaman tersebut. Ini pula yang terasa pasca mengikuti kegiatan Desa Binaan FMIPA UI 2014 yang dilaksanakan di Kp. Cibuyutan, Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjungsari, Bogor, Jawa Barat, Agustus ini. Jalan-jalan. Itu yang pertama kali terpikirkan. Entah mengapa, saat itu yang muncul adalah jiwa petualang, ingin mengunjungi tempat baru, ingin mengenal teman baru, dan ingin melakukan hal baru. Akhirnya sampai pada hari keberangkatan, tanggal 16 Agustus 2014. Sekitar pukul 10 keberangkatan dengan mobil dimulai. Memakan waktu kurang lebih 3 jam. Perjalanan selanjutnya dilakukan dengan berjalan kaki. Disitulah keajaiban dimulai.


“I love to think of nature as an unlimited broadcasting station, through which God speaks to us every hour, if we will only tune in.” - George Washington Carver.

Pemandangannya, tampak mengagumkan bagi kami semua. Bukit-bukit dan hamparan sawah, sungai, dan rerumputan. Jarang kami melihat pemandangan sepeti ini di perkotaan, Jakarta dan Depok tepatnya. Langsung terbersit dalam hati pujian terhadap-Nya, betapa indahnya alam ciptaan Allah. Melalui alam Allah bicara tentang kekuasaannya. Sayang, selama ini kita kurang menyadari hal ini.

Perjalanan dengan berjalan kaki ditempuh selama 2 jam, mungkin lebih karena banyak berhenti untuk istirahat. Terik matahari benar-benar hampir membuat kami menyerah, berbagai keluhan mulai terlontar di tengah perjalanan. Tapi betapa bahagianya ketika sebagian anak-anak Kp. Cibuyutan menjemput kami di jalan. Dengan muka yang ceria, mereka berjalan, bergantian menyalami tangan kami. Lelahpun seketika hilang. Terlintas dalam benak, betapa hangatnya sambutan yang diberikan, betapa mereka sangat menghargai tamu yang datang ke Kampung mereka.


“You live and learn. At any rate, you live.” ― Douglas Adams, Mostly Harmless

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sekolah, MI Mftahushollah II namanya, cat nya yang merah muda dan biru membuatnya menjadi bangunan yang menarik perhatian saya pertama kali. Sederhana, sangat sederhana. Sekolah ini terdiri dari tiga ruang kelas dan satu ruang guru (didalamnya termasuk juga perpustakaan). Berbeda dengan sekolah yang umumnya kita lihat sehari-hari. Sangat sederhana, tapi juga nyaman dan asri dikeliligi pepohonan di sekitarnya. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri atas 6 orang. Saya, Athiyah, Anis, Darin, Kak Ivana dan Rara (dari kimia juga), kami tinggal di rumah Pak Mista.

Setelah selesai urusan pembagian kelompok dan lain-lainnya, kami berangkat ke rumah Pak Mista. Sebenarnya saya belum tahu dimana rumah Pak Mista sebelumnya, tapi kelompok kami diantar Habib yang sebelumnya sudah tahu (juga ada Darin yang sudah tahu). Rumah beliau tersusun atas kayu dan anyaman pagar bambu sebagai temboknya serta anyaman daun (entah daun apa, saya tidak tahu) sebagai atapnya. Berbentuk rumah panggung, rumah itu terlihat sangat mungil. Kami ber-6 duduk di depan rumah karena kebetulan tidak ada orang karena bapak sedang di sekolah mengarahkan teman-teman yang lain, dan ibu.... kami tidak tahu ibu ada dimana. Setelah beberapa menit, kamipun masuk ke dalam. Saat itu keadaannya gelap, karena sudah sore dan listrik belum menyala. Ya, listrik di Kampung Cibuyutan ini memang hanya menyala pada malam hari karena hanya mengandalkan energi yang didapat dari panel surya. Kemandirian ini muncul karena listrik dari PLN belum masuk ke kampung ini.

Malam telah tiba, listrik pun telah menyala dan waktu Shalat Maghrib pun telah tiba. Kami ber-5 (tanpa kak Ivana) pergi ke MCK untuk mengambil wudhu. MCK di kampung ini hanya ada satu, dengan dua kamar mandi dan dua toilet. Terlihat sangat sederhana, cat temboknya pun sudah mulai pudar. Kami pun bergantian mengambil wudhu dan melaksanakan shalat di rumah. Setelah shalat, Pak Mista dan Ibu menyambut kami dengan makan malam yang sederhana, namun rasanya sangat nikmat. Sayangnya saat itu hanya Bapak yang makan bersama kami, ibu tidak ikut karena menurut bapak, ibu sangat pemalu. Kami pun maklum dan melanjutkan makan.

Selepas makan, kami berangkat ke sekolah untuk mandi. MCK sebenarnya letaknya jauh lebih dekat, hanya beberapa meter dari rumah yang kami tinggali. Alasan kami saat itu adalah MCK sedang penuh dan kamar mandi di sekolah lebih terang. Kami berangkat ber-6, dan di perjalanan kami sepakat bahwa kemanapun kami keluar pada malam hari, kami akan keluar bersama, alias ber-6. Setelah mandi kami kembali ke rumah untuk beristirahat. Kami berpikir bagaimana mengatur posisi tidur. Mudah sekali tertidur malam itu, mungkin karena kami sudah lelah mendaki sore harinya. Cerita hari pertama di kampung Cibuyutan pun diakhiri dengan kami yang tertidur lelap.

“I may not have gone where I intended to go, but I think I have ended up where I needed to be.”
― Douglas Adams, The Long Dark Tea-Time of the Soul


to be continue.....

Rabu, 23 Juli 2014

Sedikit Catatan Saya tentang Pemilihan Presiden 2014

Yap, tahun 2014, tahunnya pesta demokrasi 5 tahunan digelar. Rangkaiannya panjang, memang, tapi disini saya hanya mau menyoroti pemilihan presiden dan wakil presiden saja. Mengapa hanya ini? Simpel, karena ini yang sepertinya paling ramai dibicarakan orang, paling banyak jadi perdebatan orang. Mulai dari perdebatan yang penting, yang biasa saja, hingga yang tidak penting.

Dimulai dari pengumuman pasangan capres-cawapres yang akan bersaing di pilpres 2014. Sepertinya sebagian dari kita sudah bisa menebak siapa saja yang akan maju menjadi capres. Karena bukan rahasia lagi kalau kedua pasangan memang gencar diberitakan akan mencalonkan diri. Sempat terjadi kejutan di kursi cawapres, tidak usah disebutkan apa kejutannya saya yakin teman-teman tahu. Selebihnya tidak ada yang menarik hingga masa kampanye.

Masa kampanye ini yang menarik. Banyak sekali diantara kita yang menyatakan dukungan secara terbuka pada salah satu capres, yang mana menurut saya itu sah-sah saja, karen itu merupakan hak masing-masing. Oke, dukungan terbuka sudah dinyatakan. Si A memilih nomor 1, si B memilih nomor 2. Bentuk dukungan yang diberikan pun berbagai macam, mulai dari yang unik sampai yang udik (norak), mulai dari yang bikin kita mengucap 'Subhanallah' sampai yang buat kita tercengang mengucap 'Astagfirullah'. Pilpres kali ini menang penuh warna.

Yang saya perhatikan dari kedua kubu pendukung, sama sama ada sebagian yang mudah tersulut emosi. Mohon dikoreksi jika saya salah. Berbagai berita yang tersebar (atau disebar), terutama di media elektronik termasuk media sosial seperti facebook dan twitter, sering kali di kotak komentarnya terdapat komentar yang tidak baik. Yang saya maksud disini adalah kata-kata yang kurang sopan, makian bahkan sumpah serapah. Sangat tidak pantas menurut saya dikeluarkan oleh orang yang sudah masuk daftar pemilih (17 tahun +) yang harusnya bisa membedakan mana yang pantas ditulis dan tidak, apalagi kita semua sadar bahwa tulisan itu akan dibaca banyak orang, bahkan mungkin juga anak dibawah 17 tahun.

Konten-konten berita yang beredar di media masa selama masa kampanye (bahkan hingga saat ini) menampakkan berita yang saya katakan (sekali lagi mohon dikoreksi jika saya salah) dapat menggiring dan membentuk opini publik. Ya, publik kita memang sudah cerdas. Tapi apa jika setiap hari diberikan berita-berita seperti itu opininya tidak terbentuk juga? Sedikit banyak menurut saya akan berpengaruh. Kemudian tentang pengalaman saya di media sosial khususnya facebook. Banyak sekali berita-berita provokatif yang dibagikan oleh teman facebook saya, mulai dari yang menjelekan si A maupun si B. Muak rasanya melihat berita yang berpotensi menimbulkan permusuhan ini disebar setiap hari. Sampai-sampai saya terpaksa harus memutuskan pertemanan facebook saya dengan beberapa orang karena sudah tidak tahan lagi dengan hal-hal seperti itu. Mau bilang saya sombong, itu hak kalian.

Kalau yang saya perhatikan, kedua kubu pendukung caprws-cawapres seringkali seperti 'mendewakan' pilihan mereka, menganggap pilihannya paling sempurna dan yang parahnya menjelek-jelekan calon lainnya. Bagian menjelekan ini yang rasanya sangat tidak etis. Saling serang di media sosial, membabi buta menyerang salah satu pasangan capres-cawapres dengan meng-absen keburukan-keburukannya. Ya Allah. Kampanye hitam yang tersebar menyerang kedua pasangan seperti tidak ada habisnya. Kedua pasangan diserang dengan berbagai fitnah. Tidak ada yang paling terdzalimi, karena porsi dan konten kampanye hitam yang diarahkan kepada kedua pasangan sama-sama brutal.

Terkadang saya berpikir. Untuk orang-orang yang menyebarkan hal-hal seperti itu, apa tidak terpikir dampaknya? Bagaimana jika itu menyulut permusuhan? Masalahnya bukan lagi jangka pendek, bahaya. Jika sudah terjadi, mungkin oknum-oknum penyebar berita itu akhirnya hanya akan menyalahkan penulis berita, seakan mereka sendiri tidak punya andil atas permusuhan yang terjadi. Sangat disesalkan. Sebaiknya kedua kubu oendukung tetap tenang dan menjaga diri jangan sampai mengeluarkan statement yang memicu permusuhan. Karena sesungguhnya pemilu yang aman itu adalah tanggung jawab kita semua.

Terakhir tentang pengumuman hasil rekapitulasi suara oleh KPU. Kita semua tahu apa yang terjadi, sebagian besar dari kita tahu masalah itu hanya di permukaan saja, luarnya saja, tapi sudah banyak yang berkomentar. Saya bukannya tidak mau ikut berkomentar tentang hasil keputusan KPU semalam, bukan juga apatis tentang nasib bangsa kedepannya. Tapi sudah terlalu banyak orang yang mengeluarkan pendapatnya. Berbagai pendapat dari yang baik sampai yang kurang baik, dari yang bahasanya sopan sampai yang kurang sopan, dari yang mengejek dan diejek, dari yang optimis sampai yang pesimis, semuanya sudah ada. Tidak perlu lagi ditambahkan dengan pendapat saya yang notabene ilmunya masih sangat sedikit tentang masalah ini. Daripada salah, daripada menyesatkan, daripada menimbulkan permusuhan, saya memilih untuk menyimpan pendapat itu sendiri, mungkin mendiskusikan beberapa poin dengan orang tua dan mendapatkan pandangan mereka. Karena saya yakin diskusi dengan mereka tidak akan menimbulkan konflik atau menyinggung pendukung salah satu pasangan capres-cawapres, jadi lebih aman rasanya. Kerahasiaan pilihan saya juga terjamin oleh mereka. Karena rahasia adalah salah satu asas pemilu, jadi saya berusaha untuk menjaga kerahasiaan pilihan.

Buat saya, siapapun pemimpin Indonesia untuk periode 2014-2019, itu tidak masalah. Selama beliau mampu untuk menjalankan tugasnya dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, menjadi negara dengan rakyat yang makmur dan sejahtera, dan bisa kembali mempersatukan Indonesia.

Selamat untuk Bapak Jokowi dan Jusuf Kalla, semoga bisa mengemban amanat rakyat selama 5 tahun kedepan. Semoga Indonesia bisa jadi negara yang aman dan sejahtera. Kami siap mengawal kinerja bapak. Semoga tidak lupa denga janji-janjinya. Sekali lagi selamat.

Dan terakhir, untuk pendukung kedua pasangan capres-cawapres, kita harusnya lebih dewasa dalam menanggapi isu-isu yang ada. Jangan langsung menghakimi apalagi mengeluarkan sumpah serapah karena pada akhirnya itu hanya akan menimbulkan permusuhan dan menjauhkan kita dari Persatuan.

Salam Damai..




Rabu, 11 Desember 2013

2013 in Pictures

Hei, akhirnya nulis juga disini setelah sekian lama... Sebenernya nggak mau banyak nulis juga sih, cuma mau upload beberapa foto aja..

Sebelumnya sempet mikir kalo 2013 itu tahun yang biasa aja, tapi setelah iseng buka-buka foto di FB dan handphone ternyata 2013 kaya gini ya...

Menjelang UN SMA.. foto BTS XII Ipa 3 - 7 Februari 2013 

 High school graduation, Dena dan Nur - 22 Mei 2013


 with Kimia FMIPA UI, Balairung UI. Waktu itu belum kenal banyak. - Juli 2013

 with Jhuna, PSAU UI, Balairung Universitas Indonesia - 15 Agustus 2013

OKK UI, Balairung - 22 Agustus 2013

Guess what? Pertama kali pake jakun, tamling perpusat UI - 29 Agustus 2013

 Tampilan tugas PSAF MIPA UI - September 2013

Kelompok 12 OPDK - September 2013

 Closing OPDK, BSM FMIPA UI - 30 September 2013

 Kepanitiaan Chemistry Fair 2013 - November 2013

 Praktikum kimdas I hari terakhir, tanpa aslab, Lab. Kimia Anor Kimia FMIPA UI - Desember 2013



 Praktikum kimdas I hari terakhir, Lab. Kimia Anor Kimia FMIPA UI - Desember 2013

yap, 2013 jadi tahun yang cukup mengejutkan... banyak cerita heboh! mulai dari heboh UN 20 paket, heboh SBMPTN kuota dikurangin, heboh cerita selebriti? (ah, maksudnya apa?), dan heboh yang lainnya..

Liat ini cuma bisa ketawa. Ternyata kita SURVIVE dari 20 PAKET UN itu kawan 2013!! hehehe

Minggu, 18 Agustus 2013

We were Born to SHINE!!

Yap, we were born to shine. Sebelum nulis postingan ini saya lagi denger lagu Andrea Bocelli yang judulnya "Because We Believe" lagu berbahasa Italia yang mengandung makna sangat dalam untuk saya pribadi. Berikut beberapa penggalan lirik yang telah saya translate ke bahasa Inggris.

"Like stars across the sky
We were born to shine"

Nah.. Kelahiran kita semua di dunia ini sudah direncanakan dengan sangat baik oleh Tuhan, Ia yang telah menentukan berapa lama kita tinggal di dunia ini, bagaimana rezeki kita, bahkan dengan siapa nanti kita berjodoh, semuanya sudah ditentukan oleh-Nya, Ia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Born to shine. Setiap individu terlahir dengan beberapa kekurangan dan BANYAK, ya, banyak sekali kelebihan. Sayangnya banyak dari kita tidak menyadari kelebihan yang kita miliki. Mungkin hal ini terjadi karena kebanyakan dari kita telah menyadari kekurangan yang dimiliki sehingga merasa rendah diri karenanya. Percayalah, hampir semua orang pernah merasa seperti ini termasuk juga saya sendiri.

"Like stars across the sky
And in order to shine
You will have to win"

Heem, rasa rendah diri itu selama ini telah menguasai kita, selama ini kita sudah dijajah oleh rasa takut, takut akan suatu hal yang sebenarnya kecil kemungkinannya untuk terjadi. Imajinasi kita terlalu luas memvisualisasikan kegagalan yang mungkin saja tidak akan terjadi di masa depan, otak kita sudah terbiasa berburuk sangka pada Tuhan, tidak percaya akan keajaiban yang akan diberikan oleh-Nya pada kita yang mau berusaha. Kita terlalu sibuk berburuk sangka sehingga tidak punya waktu untuk melakukan aksi nyata demi keberhasilan kita. Saatnya melawn semua perasaan itu, buang jauh pikiran-pikiran negatif yang ada di kepala kita. INGAT, "In order to shine, you will have to win". Yaps, WIN! Win against all the fear.

"Look ahead and never turn your back
On the caress of your dreams, Your hopes 
And then,turn towards the day that will be
There is a finish line there."

Beberapa dari kita mungkin merasa takut akan masa lalu kita, merasa masa lalu itu merupakan masa-masa paling buruk dari hidup kita semua sehingga pada akhirnya rasa malu akan masa lalu ini membuat langkah kita untuk menggapai masa depan jadi terhambat. LUPAKAN! Lupakan masa lalu itu, jadikan itu sebagai motivasi kita untuk jadi orang yang lebih baik, jadikan itu sebagai batu loncatan kita untuk berhasil di masa depan dan membahagiakan orang-orang yang menyayangi kita.

There is a finish line there. Yes, Tuhan tahu usaha apa saja yang telah kita tempuh untuk menggapai impian kita. Tuhan Maha Adil, ia akan memberikan reward sesuai dengan usaha yang telah kita lakukan. Percayalah teman, Keajaiban Tuhan akan diberikan pada orang yang mengusahakannya, bukan pada orang yang berdiam diri menunggu keajaiban itu terjadi. Jadi, mari kita tingkatkan usaha kita dan mari pula kita perbanyak berdo'a kepada-Nya, karena usaha tanpa berdo'a tidak akan membuahkan hasil yang optimal.

"Don't give up
Someone is with you"

Ya, semua orang yang menyayangi kita pasti akan senantiasa memberikan semangat dan kita tentu akan lebih termotivasi untuk membanggakan mereka dengan prestasi kita. Well, orang mungkin bisa berpaling, orang lain mungkin saja meninggalkan kita saat kita sedang mengalami kesulitan, tapi Ingat, kita punya Tuhan yang selalu bersama kita dan melindungi kita. Ia akan selalu ada bersama orang yang berusaha di jalan-Nya, dan ia memberikan kemudahan dibalik semua kesulitan. Jadi benar, "someone is with us" and that's our God, Allah. so Don't you EVER give up on your dreams..

"We were born to shine
All of us here because we believe"

Saya percaya sebagian besar dari kita, termasuk saya sendiri pernah hampir menyerah dalam menggapai suatu tujuan kita. Banyak yang meremehkan kemampuan kita, kata-kata "Tidak mungkin!" sering sekali terlontar dari mulut seseorang. Tapi apa yang membuat saya, dan kalian tetap bertahan? Ya, All of us here because we believe, kita percaya bahwa Tuhan akan memberikan penghargaan pada setiap usaha kita dan pada akhirnya akan menyampaikan kita pada kesuksesan saat KUOTA KEGAGALAN kita telah HABIS.

Jadi, marilah kita berusaha mengembangkan setiap bakat yang ada dalam diri kita, karena Tuhan memberikannya bukan untuk kita sembunyikan tetapi untuk menghebatkan diri kita, menutupi segala kekurangan dalam diki kita.. so, Let the stars in you shining your life and brighten your future!

Minggu, 21 Juli 2013

Pengalaman Sleep Paralysis

Hemm, kalian pernah ngga sih bangun tidur dalam keadaan susah bergerak atau bernapas? Kalo pernah, itu namanya Sleep paralysis, atau yang umum dikenal di masyarakat sebagai "tindihan". Yap, rasanya emang seperti tertindih sesuatu yang berat sehingga kita tidak bisa bergerak alias lumpuh total, sementara. Peristiwa ini sering banget dikaitkan dengan peristiwa mistis, tapi sebenernya ada kok penjelasan logisnya tentang hal ini.

Sleep paralysis ini umumnya terjadi pada orang yang kelelahan, sedang gelisah, stress dan kurang tidur. Saat tubuh terlalu lelah, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur secara urut, (tahap tidur ringan, tahap tidur dalam, tahap tidur yang lebih dalam, dan REM atau rapid eye movement dimana terjadi mimpi). Dalam kasus sleep paralysis ini, tahapan tidur kita dari tahap tidur ringan, langsung masuk ke REM, nah kacau kan. Jadi saat otak kita sudah terbangun dan sepenuhnya sadar, otot-otot tubuh kita belum terbangun sehingga tidak merespon perintah dari otak kita.

Saya sendiri pernah mengalami sleep paralysis, waktu itu saya memang lagi stress banget mikirin UN karena beberapa minggu lagi memang mau tempur. Malem itu saya terbangun dan yakin kalo saya udah bener-bener sadar, tapi anehnya badan saya nggak bisa digerakin, tangan bahkan jari pun ngga bisa bergerak, sama sekali! Jadi panik dong ya, soalnya saya nggak bisa napas juga, rasanya berat banget buat narik napas. Hal selanjutnya yang saya coba lakuin adalah teriak, ya TERIAK! berharap ada seseorang yang nolongin saya, nolongin gimana kek, pokonya ditolongin. Nah, saat itu teriakan saya kayanya cuma terjadi di otak aja, dan itu bikin makin panik. Herannya, walaupun udah tau kalo saya ga bisa teriak, saya tetep nyoba teriak karena panik soalnya ga bisa napas. Ini terjadi beberapa kali dalam waktu kira-kira 30 detik (ga tau pastinya berapa, boro-boro ngitunginn waktu, orang udah panik).

Setelah terjadi beberapa kali saya baru penasaran tentang kejadian ini dan coba cari-cari di internet, disitulah saya mulai kenal istilah sleep paralysis atau kelumpuhan saat tidur. Dari penjelasan di internet, katanya orang yang lagi mengalami tindihan itu suka melihat semacam sosok mistis gitu, bayangan hitam besar dan semacamnya, adek saya pun bilang dia pernah ngalamin yang kaya gitu. Tapi dari semua pengalaman sleep paralysis saya, saya nggak pernah ngeliat yang semacem itu, nggak sekalipun. Satu-satunya yang bikin saya takut waktu ngalamin SP (sleep paralysis) adalah saya takut mati, bener-bener takut soalnya kan ga bisa napas (dalam keadaan kaya gitu aja nih otak masih mikir yang aneh-aneh). Ketakutan itu tetep aja ada setiap saya mengalami SP walaupun dari semua artikel yang pernah saya baca, nggak ada satu pun yang bilang kalo SP itu bisa membunuh. SP terakhir yang saya alami adalah 3 hari lalu, dan saya masih takut mati waktu ngalamin itu.

Sleep paralysis itu bisa dicegah, dengan tidur dan istirahat yang cukup serta dengan mencoba tidak terlalu stress dalam menghadapi masalah, susah si tapi ya dicoba aja.. Hemm, I think it's enough.. Bye, and thanks for reading it..